Mari Bantu Sulteng, Donasi Dompet Amal Transmedia Capai Rp 9,04 M

Mari Bantu Sulteng, Donasi Dompet Amal Transmedia Capai Rp 9,04 M – Petaka di Sulawesi Tengah mengundang empati gak berhingga. Gak cuman dari Indonesia, bahkan juga mancanegara.

Gempa, tsunami serta lukuifaksi yg menerjang Palu, Sigi serta Donggala pada 28 September 2018 mengundang banyak simpati. Tidak cuman dari seantero daerah di Indonesia pun dunia internasional.

Gak kecuali dari China. Tidak cuman dari Pemerintah Republik Rakyat China, bantuan-bantuan dari individu lantas banyak yang datang. Salah seseorang salah satunya merupakan Li Feng Pippa (40) . Pippa punyai kawan di Sirenja, Sulsel. Dia mengusahakan mengontaknya, namun gempa bumi memusnahkan jaringan komunikasi.

Pada 1 Oktober 2018 waktu 01. 39 WITa, Pippa memperoleh berita dari kawannya melalui WhatsApp. Isi Whatsappnya bikin bulu kuduk Pippa merinding : ” Rumah tak dapat ditinggali kembali jadi kami mengungsi pada tempat adik yg tak mengenai arah lempengan. Hingga sekarang kamk tidur di alam terbuka. Jaringan sangatlah sukar cuma berada pada PMI serta pusat peka darurat.

Sekarang data sesaat : korban wafat yg diketemukan 740 orang, korban luka 632 orang, korban hilang 46 orang, korban tertimbun 140 orang, rumah rusak 65. 713 unit, 500 kepala keluarga terisolasi, pengungsi 48. 025 jiwa. Apabila ada yg pengin salurkan pemberian tolong dapat lewat pesawat Hercules atau melalui arah Poso. Meminta doanya Pippa. Pippa langsung bikin desisi.

Pada 4 Oktober, Pippa datang di Bandar Hawa Mutiara SIS Aljufrie Palu, sehabis melalui penerbangan 48 jam dari China Utara dengan sekali transit di Kuala Lumpur serta Jakarta. ” Saya tiba di bandara darurat. Banyak layanan belum juga memiliki fungsi.

Dalam perjalanan saya pun memperoleh berita kalau banyak team penyelamat non-pemerintah, team penyelamat punya Pemerintah China sudah standby di Bandara Beijing tunggu pemberangkatan ke Palu, ” ujar pria yg tahun ini mengawali belajar di Kampus Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Pippa mengisahkan waktu malam 4 Oktober, penerbangan lebih dari 48 jam dari Cina Utara, serta ditransfer di Kuala Lumpur serta Jakarta. Pippa datang di Bandara Palu dimana masihlah dalam situasi darurat, banyak layanan yg belumlah juga memiliki fungsi dengan baik. Dalam perjalanan, dia paham kalau ada sejumlah team penyelamat non-pemerintah dalam perjalanan dari Tiongkok, team penyelamat China, pemerintah China, pun stanby di bandara Beijing. Dengan bekal arahan beberapa orang China di Palu, Pippa berkunjung ke Pantai Barat, Donggala.

Dia mencari tahu kehadiran kawannya di Desa Tanjung Pandang, Kecamatan Sirenja. Dia memperoleh kawannya mengungsi. Demikian lantas penduduk desa yang lain. Pippa kebingungan. Bagaimana dia dapat mendistribusikan beberapa bahan makanan ke banyak orang-orang yg butuh ini.

Untung dia bersua Jamaluddin, seseorang anggota Polisi yg bekerja disana. ” Saya kehilangan rumah lantaran gempa serta tsunami. Namun saya tidak bisa tinggalkan lokasi saya jauh-jauh lantaran saya bekerja di sini, ” kata Pippa mengulang-ulang pernyataan Brigadir Polisi Kepala itu. Pippa berkisah, polisi itu mengontrol masyarakatnya. Ia pun mengontrol pembagian bahan makanan yg tetap ada ” Bila tetap ada sepiring nasi, kita kedepankan dahulu orang-tua, wanita serta anak-anak, ” kata Jamal pada Pippa.

Lelaki asal China Utara itu lantas bekerja cepat. Dia menggalang pemberian dari pelbagai pihak. Pentingnya dari penduduk China pada tempat aslinya bahkan juga dari Malaysia serta Singapura. Dalam dua minggu sehabis gempa, Pippa mendistribusikan pemberian 2, 4 ton beras, 400 boks mie instant, 300 potong kelambu, 113 potong perabotan perawatan kesehatan rumah, tenda, kotak sabun basuh. Tidak hanya itu adapula uang tunai sebesar Rp15 juta dari kantong Pippa sendiri ditambah dari yang lain sebesar Rp197 juta.

Adapula bahan makanan yang lain sejumlah Rp82 juta. Sepanjang dua minggu pertama, penduduk berdiam dalam gubuk seadanya. Belumlah ada tenda-tenda pemberian yg ada. Bagaimana pribadi suami istri serta bagaimana juga kenyamanan anak-anak? Pippa lantas berpikir serius kembali.

Dia mau penduduk dapat berdiam pada tempat pantas. Dari pengalamanya berubah menjadi relawan di pelbagai tempat, ia mengerti standard minimal buat tenda pemberian petaka PBB butuh 3, 5 mtr. persegi area hidup per orang, dan pribadi. Dia terus ingat, sehabis gempabumi Wenchuan pada 2018, Pemerintah China menghasilkan tenda-tenda pemberian petaka dalam banyaknya besar.

Buat didapati gempa Wenchuan menewaskan lebih dari 100 ribu orang. ” Saya lantas bermohon serta kirim surat elektronik ke organisasi-organisasi sosial pada tempat asal saya hingga lantas ada pemberitahuan kalau tenda-tenda buat penduduk korban petaka Pantai Barat udah di kirim, ” ujar Pippa penuh semangat.